Salam dari Saya

Foto saya
Terima kasih telah mengunjungi Blog saya. Hal penting dalam hidup,bahwa manusia harus terus berkembang dalam segala hal agar bisa berhasil dan selalu mawas diri. Oleh karena itu kami buat blog ini untuk berbagi tanpa harus menggurui. Semua orang punya kekurangan dan kelebihannya sendiri, dan akan menjadi lebih baik bila mau saling mengisi dan berbagi.
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Oktober 2016

Doa



Hadiah terbaik  dalam hidup adalah DOA.
Tuhan selalu menjawab Doa dengan karunia terindah
yang dahsyat dan kadang  diluar nalar manusia.

Yg sukar dan mustahilpun akan terwujud
dengan DOA yg tulus tanpa henti.
Karena kalau Tuhan telah mengijabahi
tak ada sesuatupun yg bisa menghalangi.
KUN FA YA KUN

Terima kasih untuk semua yg telah
menghadiahi Doa yang tulus tanpa henti.
Saling mendoakan dalam kebaikan
akan membuat hidup ini indah
dan penuh kejutan yang menyenangkan.

Selasa, 18 Oktober 2016

Everyone has a chapter

Everyone has a chapter they dont  read out  loud
Setujukah anda dg pernyataan diatas?
Memang tidak semua hal ttg diri kita harus diceritakan ke orang lain
Karena kadang justru bisa mengganggu , bukan berarti kita bohong...tetapi kita hanya menceritakan apa yg perlu dan berguna utk di ketahui. 

Orang yg menceritakan semua nya cenderung menjadi nyinyir dan bisa terjebak jadi sombong dan menggurui.

Kalau kita terlalu mengobral cerita kekuatan dan keunggulan sering dianggap pembual dan sombong, sedangkan kalau terlalu banyak menceritakan masalah dan kesedihan akan dijauhi orang .
Maka Bijaksana lah orang yg bisa menjaga lidah dan bicaranya hanya sebatas yg berguna dan diperlukan bagi sesama, bukan sekedar mengobrol semuanya hanya demi ego nya. 

Menurut falsafah Jepang ada 3 wajah kita, wajah pertama untuk semua orang di dunia,  wajah kedua untuk orang terdekat dan keluarga kita, dan wajah ketiga adalah untuk diri sendiri dan Tuhan.

Kamis, 11 Oktober 2012

KEEP IT SIMPLE

Konon pada masa awal eksplorasi angkasa Luar, para astronot Amerika Serikat mendapatkan kesulitan menulis, karena semua bollpoint yang digunakan di ruang angkasa macet alias tintanya tidak mau keluar.
Masalah ini kemudian dikeluhkan ke NASA, dan NASA memerintahka para peneliti ahlinya agar dalam waktu singkat bisa membuat bollpoint yang dapat digunakan di Angkasa luar.
Para ahli tahu bahwa macetnya tinta Bollpoint dikarenakan tidak adanya gravitasi di angkasa luar. Oleh karena itu dikembangkanlah Bollpoint khusus dengan pompa canggih yang selalu dapat memompa tinta keluar dalam kondisi apapun.
Dengan biaya yang tidak murah, akhirnya bollpoint canggih itupun bisa diselesaikan dan berfungsi sangat baik di ruang angkasa.

Dengan bangga para ahli tersebut memamerkan bollpoint canggihnya ke Astronot “saingannya” yang berasal dari Rusia. Namun diluar dugaan, Astronot Rusia sama sekali tidak takjub dengan bollpoint canggih tersebut, karena mereka tidak pernah punya masalah dalam hal menulis di ruang angkasa karena selama ini mereka memakai PENSIL…!!, yang jauh lebih murah dan efektif.

Joke atau cerita diatas menyadarkan kita dalam menghadapai masalah sebaiknya kita berpikir lebih terbuka. Kasus Bollpoint itu muncul karena fokusnya hanya membuat bollpoint yang macet menjadi berfungsi lagi serta ingin membuat sesuatu yang canggih. Oleh karena itu pengatasannya dengan mendesain ulang bollpoint,menambah pompa dan sebagainya.

Namun kalau fokus tujuannya lebih dibuka, bukan bagaimana membuat bollpoint berfungsi tetapi bagaimana kita bisa menulis diruang angkasa, maka jawabannya akan sangat sederhana , seperti astronot Rusia…. pakai pensil.

Gampang susahnya pengatasan suatu masalah sangat tergantung bagaimana kita merumuskan masalah itu sendiri. Perumusan masalah yang terburu-buru akan menghasilkan solusi yang rumit, kompleks dan mahal, sebaliknya perumusan masalah yang komprehensif sering kali menghasilkan solusi yang sederhana dan mudah.

Seperti kata orang, kalau bisa dipermudah kenapa dipersulit, keep it simple, dan pesan Alm.Gus Dur :” Gitu saja kok Repot”

Okt 2012, mengenang 1000 hari wafatnya Gus Dur

Rabu, 13 Juli 2011

Ketupat atau Kupat


Menjelang bulan Ramadhan seperti ini, membuat kita teringat kembali dengan ritual-ritual yang berhubungan dengan puasa, seperti “nyekar”, “bersih diri”, “menahan lapar dan hawa nafsu”, dan akhirnya “ber-maaf-maafan” sambil merayakan lebaran...
Dalam semua ritual itu , khususnya di hari Lebaran,  akan selalu hadir satu makanan khas yaitu Ketupat atau Kupat, makanan dari beras yang dibuat seperti “lontong” tapi dibungkus dengan daun kelapa (janur) berbentuk segi empat. Oleh karena itu ketupat atau kupat tidak bisa dipisahkan dari angka “empat”.

Pagi ini saya sempat mendengar “khotbah” Pak Machfud MD (Ketua MK) tentang Kupat. Menurut beliau Kupat itu ada “arti tersendiri” yang berhubungan dengan hari Lebaran atau Iedul Fitri.
KUPAT itu akronim dari “laKU paPAT” atau empat tindakan utama yang terkait dengan Puasa dan lebaran. Ke-empat tindakan atau Laku papat tersebut adalah “Lebar, Lebur, Luber dan Labur”.

“Lebar” atau bubar arti nya pada hari iedul fitri selesailah puasa kita, sehingga hari Iedul fitri  sering juga disebut sebagai hari raya Lebaran.
“Lebur” maknanya setelah menyelesaikan puasa maka dosa-dosa kita akan di-lebur atau dihapuskan.
“Luber”, dengan leburnya semua dosa kita maka kita akan Luber dengan segala pahala dan rahmat dari Alloh SWT (luber arti harfiahnya : melimpah ruah)
Terakhir adalah “Labur” , di daerah jawa timur labur artinya mengecat tembok dengan kapur agar menjadi putih kembali, dengan demikian “Labur’ disini maknanya kembali menjadi putih dan suci setelah puasa ramadhan.

Semoga pada ramadhan ini kita kembali dapat menikmati “KUPAT” lebaran lengkap dengan ke-empat maknanya “LEBAR, LEBUR, LUBER dan LABUR”.  Amin Ya Robbilalamin

Selasa, 01 Februari 2011

"Soul-mate"

Konon dulu manusia itu bertangan 4, berkaki 4 dan berkepala 2, sehingga mempunyai kekuatan yang tidak tertandingi, melihat ini Dewa Zeus tidak suka, untuk mengurangi kekuatannya maka manusia dibelah menjadi dua seperti sekarang ini. Dengan dibelah, Zeus berharap kekuatan manusia berkurang, kecuali kalau manusia tersebut bertemu dan mau bergabung lagi dengan pasangannya atau soul-mate-nya maka kekuatannya menjadi tak tertandingi lagi.

Cerita diatas tentunya hanya legenda, tetapi nilai yang bisa didapatkan adalah manusia untuk bisa kuat dan sukses tidak bisa berjalan sendiri tetapi harus ditemani soul-mate atau pasangan hidup atau belahan jiwanya.

Pada dasarnya soul-mate adalah teman berbagi dikala susah dan senang, bisa saling membantu dengan tulus, saling empati, saling memberi dan saling menguatkan.
Dan Memang kenyataannya jika manusia mau bersinergi, maka kekuatannya bisa tambah berlipat-lipat. Banyak sekali orang yang tiba-tiba berani dan bersemangat hanya karena bertemu dengan seseorang yang bisa mengerti dirinya, demikian pula orang bisa begitu frustasi atau malah bunuh diri hanya karena berpisah atau ditinggalkan seseorang yang sangat dikasihinya.
Orang yang sudah menemukan soul-mate-nya akan menjadi insan yang tegar dan sukses dalam menjalani kehidupan. Karena seperti cerita yang ada, jika dua orang bersatu menjadi soul-mate  maka seakan punya tangan 4, kaki4 dan kepala dua!!!.
Umumnya Soul-mate atau belahan jiwa ini diterjemahkan menjadi pasangan hidup atau teman setia.

Soul-mate bisa dibangun dengan memupuk kasih sayang dan saling pengertian , sehingga masing – masing bisa saling melengkapi. Seperti bergabungnya dua orang yang masing-masing bersayap sebelah kemudian saling berpelukan menjadi dua orang yang bersayap lengkap – kanan dan kiri- sehingga bisa terbang tinggi jauh ke cita-cita dan harapan.
Seperti kata Luciano de Crescendo : “ Kita semua sebenarnya lebih mirip burung yang bersayap sebelah. Dan hanya bisa terbang kalau berpelukan erat-erat bersama orang lain.”

Mulai sekarang peluklah dengan erat teman setia atau pasangan hidup kita, jangan biarkan mereka terlepas dan terberai akibat egoisme dan emosi sesaat. Percayalah, “pelukan” itu akan menjadikan kita kuat dan tak terkalahkan oeh siapapun, termasuk oleh Dewa Zeus sekalipun..

31 januari 2011

Rabu, 22 Desember 2010

IBU PERTIWI

Semua bangsa dan semua orang pasti setuju jika Ibu adalah sosok yang harus dihormati, karena beliaulah kita dilahirkan dengan segala pengorbanan baik fisik dan moril.Sehingga ada pepatah “surga ada ditelapak kaki Ibu”.
Karena demikian mulianya peran Ibu, maka sampai dibuat hari khusus untuk Ibu setiap 22 Desember .

Dengan segala jasanya, kita wajib membahagiakan Ibu, jangan membuatnya sedih, menangis apalagi merana. Karena jika itu terjadi maka kita bisa disebut sebagai anak durhaka, sebutan yag sangat dibenci semua orang dan neraka balasannya.

Dalam kosa kata Indonesia nama Bumi di sinonimkan dengan Ibu Pertiwi. Artinya kita juga harus menghormati Bumi seperti halnya Ibu.
Layaknya ibu Kandung maka Ibu pertiwi juga harus dijaga,
• jangan membuat Ibu pertiwi terluka karena tanahnya digali dan ditambang tanpa tekendali sehingga kulit Ibu pertiwi terlihat meradang dan berlubang.
• Jangan Membuat ibu pertiwi banjir tangis akibat hutan yang ditebang tanpa rasa.
• Jangan membuat Ibu pertiwi merana akibat polusi dan suhu panas yang membara karena rusaknya Ozon di udara.

Buatlah ibu pertiwi tertawa dan bahagia dengan merawat hutannya, menjaga kejernihan airnya dan kebersihan udaranya.


Ibu Pertiwi Menangis

Kita semua bisa membahagiakan Ibu pertiwi dengan tindakan nyata dan sederhana seperti menanam pohon dan merawatnya, mencegah pembalakan hutan yang tidak terukur, menahan nafsu menambang tanah secara membabi buta dan mencoba mengurangi emisi karbon dengan menghemat penggunaan listrik dan kendaraan bermotor.

 Jika kita menyengsarakan ibu kandung, neraka balasannya, demikian juga jika kita menyengsarakan Ibu Pertiwi maka bencana alam akan menimpa.


Sekarang indonesia banyak mengalami bencana,mulai Banjir Wasior, Gempa tsunami di mentawai dan erupsi merapi , mungkin ini semua karena kita telah banyak membuat sedih ibu pertiwi dengan tindakan-tindakan kita yang merusak lingkungan dan hutan.

Untuk kebahagiaan dan ketentraman jiwa raga sudah sewajibnya kita harus menghormati dan menyayangi “dua” Ibu kita, yaitu IBU KANDUNG dan IBU PERTIWI, yang satu telah melahirkan hidup kita, sedang yang satunya telah memberikan tempat untuk hidup kita.

Selamat hari Ibu dan selamat melanggengkan hutan di Ibu Pertiwi tercinta.

Desember 22 , 2010
(Foto diambil dari : www.antaranews.com dan http://utamidessy.wordpress.com/)

Senin, 22 November 2010

Optimisme dan Bencana

Bulan-bulan ini Indonesia terasa sesak oleh maraknya bencana alam, mulai Wasior, Tsunami Mentawai dan Meletusnya Gunung Merapi, korban yang ter-renggut jiwanya mencapai ratusan.


Banyak orang bingung menafsirkan apakah bencana ini ujian atau hukuman. Yang berpikir terang mengatakan ini adalah ujian artinya kalau kita ingin menjadi lebih baik harus diuji dulu, seperti kalau kita mau naik kelas harus melalui Ujian. Ujian memang melelahkan tetapi kalau berhasil maka kita akan naik kelas atau meningkat mutu kehidupannya. Namun ada pula yang berpikir bencana ini adalah Hukuman karena kita telah berbuat salah oleh karena itu kita harus segera memperbaiki kesalahan yang ada. Lepas mana yang benar, menurut saya lebih baik kita melihat bencana ini sebagai tantangan untuk dihadapi yang dapat menjadikan kita lebih baik dan lebih kuat.

Kita masih ingat peristiwa bencana petambang yang terjebak di perut bumi di Chile, dengan segala daya Usaha, masyarakat Chile bisa merubah bencana menjadi keberhasilan dan kebanggaan, sehingga hampir semua manusia di dunia tahu siapa nama Presiden Chile: Sebastian Pinera. Malah dengan bencana ini juga bisa merangsang terjadinya inovasi , yaitu pembuatan Kapsul Penyelamat, yang memadukan berbagai teknologi secara cepat, termasuk dari NASA.
Namun Disisi lain bencana Gempa di Haiti, justru berakhir dengan wabah Kolera yang mematikan, ditambah perang saudara dan perebutan kekuasaan.
Dari dua hal tersebut dapat disimpulkan bahwa Bencana akan berakhir dengan baik atau tidak sangat tergantung sikap manusia yang menghadapinya.

Kembali ke Indonesia, dalam menghadapi bencana ini kita harus bisa merubahnya menjadi kekuatan dan kearifan, dan ini hanya bisa terjadi jika kita semua mempunyai optimisme dan rasa kebersamaan.
Siapa tahu dengan Bencana dan cobaan ini bisa muncul inovasi-inovasi baru, seperti halnya Kapsul penyelamat di Chile..

Bukankah sejarah membuktikan bahwa bencana dan cobaan dapat melahirkan pemimpin dan pemikir yang tangguh. Orang tidak akan mengenal W.Churchill dan FD Roosevelt kalau tidak ada Perang dunia, dan Mahatma Gandhi tidak akan muncul jika tidak ada bencana kelaparan dan penindasan di India.

Jadi jangan terlalu bersedih dengan bencana dan cobaan, siapa tahu ini jalan dari Tuhan untuk melahirkan pemimpin dan pemikir yang mumpuni dan teruji , yang saat ini terasa makin langka di Indonesia.


22 November 2010

Jumat, 06 Agustus 2010

Jujur - Adil - Tegas.

Agak kaget juga melihat tindakan Artis gaek kita Pong Harjatmo, yang dalam usia diatas 60 tahun, memanjat atap keong gedung DPR untuk menuliskan ungkapan hatinya : JUJUR – ADIL- TEGAS.
Lepas dari benar tidaknya “cara- penyampaian dan motivasinya”, kata-kata yang ditulis sangat bermakna untuk disikapi dan urutan penulisannya-pun juga sangat logis : Jujur, adil dan Tegas.
Kita semua tahu ketegasan hanya bisa dijalankan dengan baik jika dasarnya keadilan, dan orang bisa berlaku adil kalau ada kejujuran di hatinya.

Orang yang ingin bersikap tegas tetapi tidak adil biasanya akan terjebak pada sikap “mau menang sendiri”, semua tindakannya tidak mau di debat atau didiskusikan karena ada sesuatu yang “ditutupi”, orang seperti ini sering menggunakan kata “pokoknya......” dan ketegasan seperti ini bisa menjurus ke diktator.
Sebaliknya orang yang bertindak tegas dengan dilandasi keadilan biasanya tidak tabu untuk didebat, karena bisa menjelaskan dasar dan alasan terbaik dari tindakannya.

Demikian Juga sikap adil sangat tergantung kejujuran hati, jujur dalam menilai mana yang benar dan mana yang salah, mana yang mampu dan mana yang tidak, mana yang berhak mana dan yang tidak.
Adil bukan berarti sama rata- sama rasa, tetapi adil adalah jika orang mendapatkan hak sesuai dengan usahanya, disinilah dibutuhkan kejujuran untuk menilai hak dan usaha yang telah dilakukan seseorang.
Kebijakan atau tindakan yang didasarkan kejujuran biasanya akan adil, karena tidak menganak-emaskan ataupun menganak-tirikan, semua didasarkan pada penilaian yang benar dan apa adanya.

Sepahit apapun keputusan atau kebijakan, asal didasari keadilan dan kejujuran, biasanya akan lebih dapat diterima. Dibandingkan kebijakan yang manis tetapi tidak jujur biasanya awalnya diterima tetapi akan memunculkan konflik dibelakangnya.

Tidak mengherankan jika semua ajaran agama mengajarkan pentingnya kejujuran. Kejujuran adalah sarana untuk introspeksi sehingga kita bisa menjadi lebih baik, menjadi lebih adil dan mejadi lebih tegas.
Menjelang bulan ramadhan ini, mari kita mulai jujur pada Tuhan, jujur pada diri sendiri dan jujur pada orang lain . Dengan ibadah puasa semoga kejujuran kita semakin terasah pada bulan yang suci ini, Amin

6 Agustus 2010, empat hari menjelang Ramadhan....

Selasa, 15 Juni 2010

Pilihan.....


Kalau sedang jalan-jalan di Macau jangan kaget kalau ditawari ”kue Isetri” bentuknya seperti pia dan agak manis. Mungkin bentuk dan rasanya tidak istimewa, tetapi namanya:  ”kue Isteri”, membuat orang bertanya-tanya.
Nama ”Kue isteri” ini berasal dari cerita beberapa abad yang lalu di Macau. Dikisahkan ada seorang pria di Macau yang pekerjaannya hanya berjudi. Suatu saat sang penjudi ini kalah total, dan hartanya habis. Demi memenuhi hasrat judinya, ia kemudian tega menjual istrinya untuk mendapatkan uang untuk Judi. Dan dapat ditebak , ia pun kalah lagi dalam berjudi, uang hasil ”menjual” istrinyapun habis - ludes.
Pada saat titik nadir inilah , pria itu  sadar akan semua kekhilafannya, dan ia tak sanggup membayangkan betapa tersiksa  istrinya yang telah dia jual .
Dalam keadaan putus asa munculah pilihan-pilihan, mulai yang terburuk sampai yang terbaik. Syukurlah pria itu memilih yang terbaik, ia berjanji untuk dapat ”menebus” istrinya kembali dengan cara yang baik. Muncul niatnya untuk berjualan Kue yang hasilnya nanti akan dipakai menebus kembali istrinya. Melihat niat baik dan ketekunan pria itu semua warga Macau mendukung dengan ramai-ramai membeli kue yang dijaja-kannya. Akhirnya dari jualan kue itu, pria itu berhasil mengumpulkan uang banyak dan berhasil menebus kembali istrinya. Alkisahh, pasangan suami-isteri  itu terus menjual kue-nya turun temurun. Kue itu masih terus ada sampai sekarang dan dikenal sebagai ”Kue Istri”.
Keberhasilan dan ke-insyafan seseorang tidak tergantung pada orang lain, tetapi tergantung pada pilihan diri sendiri. Dan Tidak ada kata terlambat dalam memilih kebenaran. Pilihan yang baik dan benar, meski terlambat, tetap akan memberikan akhir yang manis.

pas,15 juni 2010

Rabu, 03 Maret 2010

Diatas Langit masih ada langit


Olah raga mendaki gunung memang sangat menantang dan berbahaya, beberapa pendaki banyak yang celaka sebelum mencapai puncaknya. Beberapa waktu lalu reporter TV lokal mencoba mendaki Gunung Gede untuk membuktikan ”tantangan ” dalam pendakian itu. Dalam Liputannya dilaporkan betapa susahnya mendaki lewat tanjakan yang terjal dan suhu yang dingin, dengan susah payah akhirnya mencapai puncak gunung  dalam waktu 10 Jam. Kelelahan seakan terbayar dengan melihat keindahaan matahari terbit dari puncak Gunung Gede.

Ditengah istirahat dan menikmati keindahan puncak Gunung Gede, tiba-tiba ada orang menawarkan nasi uduk, tanpa pikir panjang langsung dibeli dan disantap. Namun dia bingung ketika memikirkan darimana datangnya si penjual nasi uduk ini.
Setelah ditanya, si penjual nasi Uduk menjawab, ”Rumah saya dibawah, di awal pendakian bapak-bapak tadi dan saya sudah berdagang lebih dari 5 tahun”.
Si reporter sangat terkejut ”prestasi” yang baru diukirnya dengan susah payah ternyata sudah dilakukan berulang-ulang oleh si penjual nasi uduk selama 5 tahun.
Bapak butuh waktu berapa lama naik ke puncak ini dengan membawa dagangan itu ?” tanya si reporter, ” Seperti biasa saya butuh 3 jam untuk sampai ke Puncak gunung Gede ini” jawab si penjual nasi uduk dengan tenang....

Cerita diatas bisa jadi cermin bahwa suatu prestasi bagi seseorang  bisa jadi itu bukan apa- apa bagi orang lain.
Orang yang cakrawalanya sempit dan tidak mau lihat keluar, sering terjebak dengan kepuasan akan prestasi yang didapat,  orang seperti ini biasanya akan menjadi sombong dan tidak mau memperbaiki diri
Ada baiknya dalam mengukir prestasi kita selalu mawas diri, mungkin ada yang masih lebih baik  dari kita. Dengan demikian meski kita telah mencapai prestasi dan kesuksesan tertentu,  tetap akan terus memperbaiki diri dan terhindar dari comfort zone.
Seperti pepatah, diatas langit masih ada langit.

Renungan 3 Maret 2010

Senin, 22 Februari 2010

Bercermin pada air, "ngeli ning ora kenthir"


Sering orang mengatakan hidupnya seperti ”air yang mengalir”, atau hal lain yang berhubungan dengan air.
Kita senang sekali mem-personifikasikan diri dengan Air  dan itu sama sekali tidak salah. Air memang Istimewa. Dialah sumber kehidupan, orang bisa tahan lama untuk tidak makan tetapi akan kesulitan untuk bertahan hidup jika tanpa air.

Air terlihat demikian lentur dan flexibel, dapat menyusup kemana-mana tanpa harus kehilangan bentuk aslinnya.
Meskipun sangat lentur, air ternyata mempunyai kekuatan yang hebat, batu keras pun akan terkikis  oleh tetesan-tetesan air , dan bila tetesan-tetesan air  bersatu dan berubah menjadi air bah, maka tak ada satupun di alam ini yang mampu menahannya.

Selain kekuatan yang bertenaga, air juga mempunyai kekuatan untuk membersihkan dan mensucikan, hampir semua kotoran akan terlarut oleh kekuatan Air.
Air juga menyejukkan, hawa panas dan bara api akan hilang jika terguyur dinginnya air.

Dibandingkan Api dan sumber alam lainnya,  air paling mudah diatur untuk kepentingan bersama. Lihat saja air bisa ditampung dibuat bendungan dan dialirkan kesana kemari untuk keperluan yang lebih besar.

Jadi kalau banyak orang  benar-benar mau bercermin dan meniru perilaku AIR, niscaya kesejahteraan masyarakat akan terwujud dan langgeng.

Ada satu lagi prinsip hidup yang berhubungan dengan air ,dalam bahasa jawa dikatakan : ”ngeli ning ora kenthir” artinya kira-kira :  mengikuti aliran arus sungai tetapi tidak sampai hanyut.

Dalam hidup kita harus bijak, bisa beradaptasi dan mengikuti ”main stream” tetapi jangan sampai hanyut, artinya jika suatu saat ”arusnya” sudah tidak benar maka kita berani dan bisa untuk berdiri meninggalkan arus. Hanya orang yang tidak hanyut yang bisa melakukan itu, sedangkan orang yang hanyut akan terbawa arus kemanapun tanpa daya apa-apa, karena tidak punya kekuatan  untuk melawannya.

Orang yang berprinsip ngeli ning ora kenthir” biasanya hidupnya efisien karena dalam menjalankan hidupnya dia bisa menggunakan arus yang kuat untuk mendorongnya mencapai kesuksesan, tetapi juga tidak sampai hanyut , artinya dia masih punya prinsip dan jati diri yang bisa melawan jika ternyata arusnya membawa kearah yang salah !!

Renungan,  22 Februari 2010

Minggu, 31 Januari 2010

Wisdom

Dalam MahaBharata dikisahkan , karena suatu hal, PENDAWA harus dihukum dan dibuang selama 12 tahun, kemudian hukuman ditambah lagi 1 tahun harus menyamar, kalau sampai terbuka penyamarannya maka hukuman buang akan diulangi dari awal lagi. Hukuman tambahan ini hasil akal licik Kurawa untuk mencegah agar Pandawa tidak balik memerintah Kerajaan Hastina lagi.

Setelah 12 tahun dalam pembuangan, Pendawa memasuki tahun akhir hukumannya, yakni harus menyamar, agar tidak dikenali.
Diputuskan Pendawa akan tinggal di kerajaan Wirata tetangga Hastina. Arjuna menyamar menjadi kusir kuda bernama Wrahatnala, beruntung Wrahatnala bisa bekerja sebagai kusir/kais anak raja Wirata.

Di hari-hari akhir penyamarannya, tiba tiba ada kabar Kurawa berniat mencaplok Wirata menjadi jajahannya, untuk itu Kurawa telah mengirim pasukan guna menaklukan wirata yang dipimpin panglima andalannya : Dorna dan Adipati Karna.

Mendengar hal ini Wirata Panik, karena tahu kesaktian Durna dan Adipati Karna susah ditandingi. Putra Mahkota Wirata yaitu Pangeran Utara, yang dikusiri wrahatnala (samaran dari Arjuna) terlihat ragu, apakah mampu menghadapi panglima kurawa ini, dan ia memutuskan untuk lari saja.

Arjuna dalam hati dia tidak rela Kerajaan Wirata harus takluk ke Kurawa karena merasa itu tidak adil, namun kalau dia membantu pasti penyamarannya akan terbuka, artinya dia dan saudara-saudaranya harus di buang 12 tahun lagi . Bimbanglah hati Arjuna, namun nurani keadilannya lebih dia utamakan, akhirnya ia putuskan membela Pangeran Utara dan Kerajaan Wirata, meski taruhannya dia harus mengorbankan penyamarannya.

Dalam Peperangan akhirnya Kerajaan Wirata dengan bantuan Arjuna bisa menghalau Durna dan Adipati Karna.
Pada saat perang tanding menggunakan Panah, Durna dan Karna sempat terkejut ketika ada orang Wirata yg bisa menandingi dan mengunggulinya, dilihat cara memanahnya mereka berdua yakin dan tahu orng yang membantu Wirata adalah Arjuna.
Disini Dorna dan Adipati Karna bingung , apakah akan melaporkan bahwa penyamaran Arjuna telah diketahui kepada raja Kurawa, atau diam saja seakan akan tidak tahu apa yang terjadi.
Mereka memutuskan untuk tidak lapor ke Kurawa, dengan demikian penyamaran Arjuna tetap terjaga karena mereka tahu makin lama Arjuna dan Pendawa dibuang makin lama pula rakyat Hastina sengsara karena harus dipimpin Kurawa yg penuh angkara dan ketamakan.



Dalam Mahabharata, Dorna dikenal sebagai tokoh yg kurang baik tetapi saat untuk keadilan dan kepentingan yg lebih besar ternyata masih mempunyai Wisdom dalam nuraninya.

Arjuna, Adipati Karna dan bahkan Dorna mencontohkan kapan kita harus berani berkorban bahkan "sedikit berbohong" demi untuk keadilan dan kebenaran yang lebih besar.
Jangan sebaliknya, kita seakan mengagungkan "kejujuran" atau "kesucian" tetapi yang sebenarnya hanyalah ingin meninggikan ego, kemunafikan , kesombongan dan kepentingan sendiri tanpa mempedulikan kepentingan orang banyak.

Wisdom inilah yang membedakan orang yang matang dengan orang yang masih kekanak-kanakan.
Wisdom inilah yang membedakan pemimpin dengan orang yang mengaku bisa memimpin.
Dan Wisdom ini pulalah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya, karena satu-satunya kemampuan yang diberikan Tuhan kepada manusia dan tidak kepada makhluk lainnya adalah WISDOM.

Oleh karena itu Tuhan akan "tersenyum" dan memberkahi jika makin banyak pemimpin, negarawan, politikus, pengusaha, seniman, ilmuwan, mahasiswa, pedagang, pengamen dan lain lainnya, yang mau menggunakan Wisdom-nya.

Renungan, 31 Januari 2010

Kamis, 31 Desember 2009

Ganti Tahun


Tidak terasa 365  hari terlewati, tahun akan berganti, artinya sebuah kalender akan dibuang lagi dan diganti kalender baru.Seperti biasa pergantian tahun selalu dihiasi pesta perayaan dan keramaian dan kemacetan dan lain-lainnya yang sejenis.


Ritual lain yang sering diomongkan orang adalah melakukan kontemplasi, yakni menengok kebelakang, keberhasilan atau kegagalan apa saja yang telah kita lakukan.

Keberhasilan yang  dicapai patut disyukuri dan dirayakan, tetapi jangan berhenti disitu, jadikanlah keberhasilan tahun lalu  untuk menjadi batu pijakan untuk keberhasilan ditahun mendatang.
Janganlah beranggapan di tahun depan otomatis keberhasilan itu  akan terulang kembali,  karena kondisi dan tantangan tahun depan tidak sama dengan tahun lalu. Oleh karena itu untuk kembali berhasil, tidak bisa lagi berdasar pola lama tetapi harus ada perubahan, tanpa tindakan yang berbeda dengan sebelumnya mustahil keberhasilan akan terjadi lagi di tahun depan.

Sedangkan kegagalan yang dialami pada tahun lalu jangan membuat kita takut untuk berbuat di tahun mendatang ,tetapi jadikan bahan belajar untuk memperbaiki tindakan kita ke depan.
Orang yang terlalu terbebani kegagalan masa lampau biasanya merasa takut menghadapi masa depan, hilangkan perasaan itu, karena ibarat orang berjalan  kedepan, apa yang ada dibelakang tidak akan terulang lagi di depan, kecuali kalau kita berjalan mundur.

Dalam melihat kebelakang kita biasanya terjebak melihat apa yang sudah dilakukan, tetapi yang terbaik adalah fokus kepada apa yang belum dilakukan. Karena apa yang sudah dilakukan, meskipun sangat disesali, tidak akan bisa dirubah lagi.

Seperti kata pepatah, jangan menyesali apa yang telah dilakukan tetapi sesalilah apa yang belum dilakukan. Oleh Karena itu sejak hari pertama tahun depan mulailah dengan tindakan, tindakan dan tindakan......

Mungkin ada banyak rencana dalam benak kita, tetapi rencana saja tanpa tindakan ibarat orang bermimpi indah berjalan- jalan keluar kota, tetapi terkejut ketika bangun ternyata masih ada di kasur tidak beranjak kemana-mana.

Selamat Tahun Baru,

Renungan 31 Desember 2009


Kamis, 03 Desember 2009

"Walk in the Talk"


“Walk in the Talk”....

Suatu hari seorang ibu mengajak anaknya bertemu Mahatma Gandhi, sang ibu minta tolong Gandhi menasihati anaknya agar berhenti makan permen.
Sejenak Gandhi terdiam, kemudian dia berkata: “ Datanglah kembali kesini 2 minggu lagi”.
Dengan sedikit bingung, si Ibu menuruti kehendak Gandhi, dua minggu kemudian ia kembali membawa anaknya menemui Mahatma Gandhi.
Saat bertemu Gandhi, anak itu dipandangnya dengan kasih :” Berhentilah makan permen” kata Gandhi. Anak itu pun menurut, hanya sang Ibu yang akhirnya bertanya, mengapa untuk nasihat itu harus menunggu 2 minggu. Dengan tersenum gandhi menjawab: “ Saat itu aku juga suka makan permen, jadi aku juga harus berhenti makan permen sebelum menasihati anak ibu”....

Mahatma Gandhi dikenal sangat konsekuen dengan ucapannya, apa yang diucapkan sama dengan apa yang dilakukan. Saat ia menganjurkan Swadeshi (Mandiri, hanya mau memakai produksi India), dengan konsekuen ia pun tidak menyentuh barang import sampai wafat, mulai dari baju, sandal dan makanan semua berasal dari India, meskipun dengan keadaan sangat sederhana dan serba terbatas. Itulah yang  disebut “Walk in the Talk”

Dalam leadership orang yang “walk in the Talk” seperti Gandhi akan menjadi Role Model Yang hebat,  semua tutur ucapannya akan diikuti dengan kerelaan dan bukan karena keterpaksaan.


Sungguh sulit untuk menganjurkan orang lain melakukan sesuatu yang kita sendiri tidak melakukannya, demikian juga sangat sulit untuk melarang orang lain melakukan sesuatu yang kita sendiri melakukannya.

Bisa dibayangkan bagaimana sukarnnya seorang Bapak yang perokok menganjurkan anaknya agar tidak merokok !!, sehingga sangat bisa dimengerti jika seorang kerabat saya yang perokok berat sejak mudanya, tiba-tiba bisa berhenti total hanya karena ingin melihat anak kesayangannya tidak merokok.



Kata orang jika kita “bisa berbuat seperti apa yang dikatakan” dan “berkata seperti apa yang diperbuat” maka hidup akan terasa mudah karena tidak perlu ada yang direkayasa atau ditutup-tutupi dan kejujuran akan terwujud dengan sendirinya.


Banyak pribadi atau perusahaan di negeri tercinta sudah mengadopsi “walk in the Talk” atau integritas dalam Core value-nya.


Tetapi sekalil lagi hal ini mudah diucapkan tetapi sukar dilakukan, namun yang lebih penting jangan lelah untuk terus mencoba, mencoba dan mencoba. Karena jika berhasil artinya kita telah menjadi orang yang sukses paripurna, tidak takut kepada apapun dan siapapun kecuali Tuhan semata. Amin Ya roballalamin

Rabu, 24 Juni 2009

Menang tanpa mengalahkan



Menang tanpa harus Mengalahkan

Disekitar kita saat ini banyak terjadi kompetisi politik. Namun yang disayangkan seringkali dalam kompetisi itu yang kalah tidak mau mengakui kekalahannya dan yang menangpun merasa congkak seakan hanya dialah yang paling berharga dengan menafikkan yang lain.
Akibatnya bisa diduga setiap kompetisi diakhiri saling protes dan kericuhan berkepanjangan, meski awalnya semua berjanji siap kalah dan siap menang.

Kompetisi atau persaingan sebenarnya bukan semata mencari yang menang dan kalah tetapi mencari sesuatu yang lebih baik bagi semuanya. Jika prinsip ini di anut maka kompetisi akan berlangsung sehat; karena diyakini yang menang atau yang kalah sama-sama berperan mencari sesuatu yang lebih baik.
Pemenang akan menghormati yang kalah, sedang yang kalahpun tidak merasa terhina karena dia juga ikut berperan dalam proses membangun sesuatu yang lebih baik bagi semua

Disamping itu, yang kalah tidak perlu kecewa karena sebenarnya dia juga berperan penting ”mengantarkan” terciptanya pemenang.
Bayangkan kalau suatu kompetisi hanya diikuti 1 orang pasti tidak akan ada pemenangnya. Demikian juga yang kalah bisa bangga, karena kemampuannya dapat menentukan kualitas pemenangnya . Dalam kompetisi yang pesertanya berkualitas buruk pasti pemenangnya-pun ikut buruk. Tetapi kalau semua peserta dan penantangnya berkualitas tinggi maka pemenangnya juga akan berkualitas lebih tinggi lagi.

Selama masa kompetisi politik ini ada baiknya mengingat pepatah jawa ” menang tanpa ngasorake” atau ”menang tanpa mengalahkan”, artinya menang untuk mencapai sesuatu yang lebih baik bagi semua, bukan untuk mengalahkan atau mempermalukan yang lain...., dengan prinsip ini bekas penantang bisa menjadi kolaborator yang tangguh sepeti halnya Obama dan Hillary...

Senin, 15 Juni 2009

always improve


Hidup ibarat roda berputar, kadang dibawah- kadang diatas, kadang gagal tapi sering pula berhasil. Kedua sisi hidup itu harus dihadapi. kita tidak boleh gampang terguncang karena cobaan dan tidak pula congkak karena keberhasilan. Pertanyaannya bagaimana kita bisa bersikap arif, baik kala diatas maupun kala terpuruk dibawah . Mungkin semboyan ”we are not the best but Always Improve” bisa menjadi alternatifnya.

Dengan berpegang pada prinsip ini, jika kita sedang terpuruk kita akan termotivasi karena keterpurukan ini diyakini bukan akhir segalanya tetapi masih ada esok untuk bisa lebih diperbaiki lagi ( we always improve…)

Demikian pula saat berhasil kita tidak terjebak dalam kecongkakan dan takabur karena dalam hati selalu tertanam bahwa kita belum yang terbaik, meski sudah berhasil tetapi ada yang lebih berhasil lagi sehingga apapun pencapaian saat ini masih bisa diperbaiki lagi, lagi dan lagi..

(we are not the best but we always improve..

Kamis, 21 Mei 2009

Ayah, anak dan kuda


Kisah Ayah, Anak dan Kuda

Cerita ini sebenarnya sudah lama, namun dengan situasi sekarang yang banyak “saling mengkritik” ada baiknya kita ingat lagi .

Alkisah ada seorang ayah dan anak yang pergi dengan seekor kuda, karena kudanya kecil si anak disuruh naik kuda dan si Ayah jalan kaki, seorang yang lewat “mengkritik” menganggap si anak kurang sopan karena membiarkan si Ayah jalan kaki sedang dia enak2 naik kuda, diikutilah kritik orang ini, namun tidk berapa lama ketemu orang lain dan mengkritik lagi karena dianggap si Ayah tidak berperikemanusiaan dengan membiarkan anaknya jalan kaki sedang dia yang lebih kuat malah naik kuda. Bingung dengan kritik yang ada akhirnya diputuskan keduanya tidak naik kuda dengan harapan tidak ada yang mengkritik lagi. Namun diluar dugaan ketika ketemu orang ketiga ternyata juga mengkritik dan menganggap dua orang ini bodoh karena punya kuda kok tidak dinaiki tetapi malah dibiarkan saja. Si Ayah dan Anak menjadi kebingungan mana sebenarnya yang benar??

Kalau direnungkan , kita tidak akan bisa memuaskan semua orang. Memang kritik harus diperhatikan tetapi tidak harus dikuti semua, dan yang penting harus mengikuti tujuan kita dengan melihat sumber daya yang kita punya...

(disarikan dari berbagai sumber)