Salam dari Saya

Foto saya
Terima kasih telah mengunjungi Blog saya. Hal penting dalam hidup,bahwa manusia harus terus berkembang dalam segala hal agar bisa berhasil dan selalu mawas diri. Oleh karena itu kami buat blog ini untuk berbagi tanpa harus menggurui. Semua orang punya kekurangan dan kelebihannya sendiri, dan akan menjadi lebih baik bila mau saling mengisi dan berbagi.
Tampilkan postingan dengan label mawas diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mawas diri. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Januari 2012

Bersaing dengan menghormati KEMENANGAN dan memaknai KEKALAHAN

Dalam era demokrasi ini semua orang bebas untuk bersaing , baik bersaing untuk menjadi juara olah-raga, bersaing menjadi manajer atau direktur , bersaing menjadi Bupati-walikota, bersaing menjadi pimpinan partai, bersaing menjadi anggota DPR, bersaing menjadi Gubernur, sampai bersaing menjadi Presiden.


Semua menyiapkan diri untuk menang, tetapi tidak siap untuk kalah. Padahal dalam bersaing , kalah dan menang itu pasti terjadi. Akibatnya orang sangat berbahagia jika menang tetapi tidak pernah bisa menerima kekalahan. Yang kalah dalam pertandingan selalu protes mulai dari wasit yang tidak “adil” lah sampai merasa dicurangi. Demikian juga yang kalah dalam persaingan menjadi ketua Partai, bukannya mencoba memperbaiki diri untuk kekuatan partai, tapi malah emosional dengan membentuk partai Tandingan. Belum lagi dalam pemilihan Bupati sampai Gubernur, tidak pernah sekalipun yang kalah berbesar hati mengakui kekalahan dan kekurangannya, tapi malah memusuhi yang menang, dan kalau perlu membakar rumahnya, astaghfirullah.
Mungkin kita-kita yang bersaing dalam era demokrasi ini, selain memegang prinsip “winner takes all” ala barat, juga seyogyanya diimbangi dengan semboyan ala orang timur :” mengalah untuk kemenangan”.

“Mengalah untuk menang”, memang gampang diucapkan tetapi susah dijalankan.
Saya jadi ingat saat Tawaf mengelilingi Ka’bah, saat itu semua orang pasti ingin mencium Hajar aswad (Batu Hitam Mulia yang ada disalah satu Pojok Ka’bah). Tidak mudah untuk mencium Batu tersebut, karena semua orang berebut menciumnya, malah ada yang menawarkan jasa untuk membantu mencium Hajar Aswad, tentu dengan minta imbalan uang. Yang memprihatinkan, mereka ini tidak segan-segan menyikut kanan-kiri hanya sekedar untuk mencari jalan.

Saya dan Istripun ketika tawaf ingin sekali mencium hajar aswad, kami sudah berusaha sekuat tenaga, disatu titik saya merasa tidak kuat lagi melawan arus manusia yang ada, tetapi istri saya dengan semangat terus maju tanpa henti, akhirnya saya terpisah dari istri . Saya terus menunggu dan jalan pelan diantara sesaknya ribuan orang, menit-menit terasa jam. Sejenak kemudian saya lihat istri saya keluar dari kerumunan dan himpitan orang dengan keringat bercucuran, tetapi tatapan mata dan senyumnnya terlihat kepuasan, “ Pak, saya berhasil, saya berhasil Mencium Hajar aswad”…… Alhamdullilah.
Akhirnya kami menyelesaikan Tawaf dan sholat di Masjidil haram. Selama sholat saya terus berpikir, istri saya bisa berhasil memenangkan persaingan mencium Hajar Aswad, mengapa saya yang lebih kuat kok Gagal…

Ketika duduk disalah satu Mesjid, saya mengobrol dengan teman saya, dan menceritakan kegelisahan saya tentang gagalnya mencium Hajar Aswad, namun saya terkejut dengan tanggapan Teman saya : “Saya juga belum pernah mencium Hajar Aswad, saya cukup dengan melambaikan tangan saja, karena itu juga dirahmati Alloh” dia melanjutkan “Saya tidak terlalu kecewa, karena dengan saya mengalah untuk tidak mencium Hajar Aswad, saya sudah meberikan kesempatan kepada orang lain untuk dapat menciumnya…”..Subhanallah

Betul juga, kalau tidak ada orang seperti teman saya, dan semua ngotot mau mencium Hajar Aswad, bisa dibayangkan betapa chaos-nya keadaan , malah mungkin semua tidak bisa mencium Hajar aswad.
Ketika saya dapat rejeki dan Umroh lagi, saya berusaha mencium Hajar Aswad, tetapi tidak berhasil lagi , kali ini saya tidak terlalu gelisah. Justru saya merasa ikut bahagia melihat orang-orang yang berhasil mencium Hajar Aswad. Dalam hati saya senang karena dalam keberhasilan mereka sebenarnya ada andil saya juga.

Jadi kegagalan dan kekalahan tidak selalu menyedihkan, kadang-kadang kita perlu kalah untuk kemenangan yang lebih hakiki.
Sebaiknya dalam bersaing selain memikirkan kemenangan diri sendiri, juga dipikirkan kemenangan orang Banyak. Jika kekalahan kita dapat membuat kemenangan yang hakiki bagi orang banyak, maka kita tidak perlu malu dan menyesalinya. Kalah dengan terhormat sama baiknya dengan sang pemenang.
Sungguh tercela orang yang berprinsip “ti ji ti beh = mati siji mati kabeh” yang arti nya dia tidak rela kalau ada yang menang, kalau dia sampai kalah maka semua harus ikut “kalah” atau sering disebut “aksi bumi hangus”. Jika hal ini berjalan maka peradaban Indonesia tidak akan pernah maju . Karena yang kalah tidak mau memperbaiki diri tetapi justru menarik orang yang lebih baik menjadi mundur ke titik nol lagi. Hormatilah Kemenagan untuk kemajuan bersama.

Kemenangan memang sesuatu yang indah untuk dicapai, tetapi kekalahanpun harus berani dihadapi dengan lapang dada. Kekalahan jangan diartikan kehancuran, tetapi harus dimaknai sebagai sarana introspeksi untuk perbaikan dan bekal untuk meraih kemenangan yang lebih besar. Orang yang sukses biasanya sudah mengalami kemenangan dan bisa memaknai kekalahannya dengan pikiran positif dan optimis.

Apabila Kemenangan itu ibarat Matahari, dan Kekalahan itu ibarat Hujan, maka kita perlu kedua-duanya untuk dapat melihat indahnya Pelangi…….

Selamat bersaing dengan sehat di Negara Indonesia Tercinta.

Jakarta 3 Jan 2012

Sabtu, 31 Oktober 2009

Belajar dari ikan KOI



Belajar dari ikan koi

Ikan Koi banyak disukai orang karena bentuk dan warnanya Indah dan berumur panjang .
Banyak macam ikan Koi tapi yg terkenal yang berwarna belang merah dengan sungut di mulutnya.

Di china ikan ini dipercaya bisa membawa rejeki .  Dalam mitosnya ikan Koi sangat gigih dan tidak mengenal lelah mengarungi sungai kuning di china, dan dipercaya karena kegigihamnya setelah berjuang mengarungi yellow river akhir nya ikan ini diberkahi dewa dan bisa berubah jadi naga .

Kegigihan kerja ini mengilhami kita,  saat ini kebanyakan orang lebih senang mencapai hasil yang cepat tanpa harus bersusah payah  . Akibatnya segala upaya diterjang , kalau perlu berbuat curang dan korupsipun tidak terlarang.
Sebenarnya , kalau bercermin dari ikan koi, segala kecurangan dan korupsi bisa dihindarkan jika kita berpegang pada prinsip  bahwa,  hasil yang baik hanya terjadi karena proses kerja yang baik.

Pada suatu saat saya disuruh menilai mana yang lebih baik, orang yang tidak berhasil tetapi sudah melakukan kerja keras yang benar, atau orang yang berhasil tetapi tidak tahu kerjanya bagaimana.
Menurut saya untuk kedepan orang pertama yang akan lebih banyak berhasilnya, meskipun saat ini gagal, tetapi dengan kerja keras dan proses yang benar maka keberhasilan itu hanya tinggal menunggu waktu.
Sebaliknya orang yang berhasil karena tidak jelas sebabnya, maka tinggal tunggu waktu saja kegagalan akan segera menimpa dan dia tidak tahu bagaimana mengatasi kegagalan itu.

Jadi kembali ke Ikan Koi, jika ingin jadi Naga berjuanglah gigih dengan terus berusaha tanpa mengenal lelah, pasti keberhasilan yang hakiki akan tergapai.
Jika memotong jalan atau berbuat curang mungkin bisa dapat keberhasilan, tetapi pasti tidak bertahan lama dan akan berbuah kehancuran di ujungnya.
sebaiknya kita ikuti pepatah usang tetapi masih tetap bermakna : tidak akan ada hasil tanpa keluar keringat atau berakit-rakit kehulu, berenang ketepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian....

Mawas diri 20 oktober 2009

"Job" dari Tuhan





"Job" dari Tuhan, Belajar dari Sinetron
Banyak orang yang sinis pada sinetron yang ada saat in. Sinetron dianggap tidak membumi dan tidak mendidik. Namun diantara sekian banyak sinetron terselip satu sinetron , yang menurut saya, cukup mendidik dan saya banyak mendapat insight positif dari sinetron itu, Judulnya: Para Pencari Tuhan 3 (karya Deddy Mizwar, diputar saat puasa ramadhan 2009)

Diceritakan ada tokoh kaya yang cenderung pelit bernama H.Jalal, karena dia orang yang punya duit di desa itu maka setiap ada masalah keuangan selalu minta bantuannya. Setiap kali membantu dia selalu mengeluh karena sebagian harta yang dia kumpulkan harus berkurang. Sampai suatu saat ustadz di desa itu memberikan pencerahan bahwa kalau ada orang yang minta bantuan berarti itu adalah tawaran kerja atau Job dari Tuhan. Seperti layaknya tawaran kerja , kalau dijalankan pasti akan ada imbalan dari Tuhan yang jumlahnya pasti besar. Kalau H.Jalal tidak mau membantu orang lain berarti dia telah menampik tawaran Job dari Tuhan dan melewatkan hadiah dari Tuhan
Sejak pencerahan itu maka jika ada orang yang minta bantuan selalu akan diberikan dengan riang hati, bahkan jika lama tidak ada orang yang minta bantuan dia menjadi sedih karena merasa tidak ada tawaran pekerjaan(JOB) dari Tuhan untuk memakmurkan dirinya.

Cuplikan cerita ini merubah Mind-set tentang sedekah. Dulu kalau mau bersedekah atau membantu orang selalu melihat uang yang ada, kalau uang banyak dan ada sisa baru mau sedekah . tapi kalau uang menipis tidak .
Demikian juga kalau mau menolong orang , dilihat dulu apa uangnya cukup, jadi selalu melihatnya ke keperluan sendiri yang diutamakan. Tetapi dengan pengertian bahwa membantu orang itu adalah Job dari Tuhan maka berapapun uang yang ada tidak dipikirkan lagi ,yang penting bisa menjalankan JOB-Nya. Dengan demikian berarti kita telah berbakti pada Tuhan dan Tuhan akan menjamin kesejahteraan umatnya yang berbakti .

Dengan logika ini saya mulai mengerti mengapa salah satu Ustadz Muda menganjurkan kalau mau sukses bersedekahlah, kalau perlu berhutanglah untuk bersedekah guna mencapai kesuksesan. Kalau untuk urusan bisnis dunia yang keberhasilannya tidak terjamin saja berani berhutang mengapa untuk bersedekah yang dijamin balasannya oleh Tuhan tidak berani hutang.
Tantangan ini memang cukup kontroversial dan banyak pro-kontranya, menurut hemat saya dari pada berhutang lebih baik carilah rejeki sebanyak-banyaknya agar kita bisa bersedekah yang banyak pula. Sehingga terjadi spiral rejeki dan sedekah yang saling menambahkan dan terus berputar keatas mencapai kebahagiaan dunia akhirat.

Mawas diri 28 Sept 09

Selasa, 20 Oktober 2009

managing the expectation



Managing the Expectation




Pada Hari kemerdekaan 17 Agustus 09 yang lalu , saya pulang ke Tegal dari Jakarta,  biasanya jarak itu ditempuh 5-6 Jam, tetapi diluar dugaan perlu waktu 9 Jam dari Jakarta ke Tegal.
Beberapa minggu kemudian kembali saya ke Tegal untuk mudik lebaran dan waktu tempuh yang diperlukan mencapai 20 jam !!.
Tetapi yang aneh pada perjalanan mudik itu meski waktu tempuhnya lebih lama, sampai 20 jam, namun perasaan ”kesal dan kecewanya”nya tidak sebesar saat pulang pada hari kemerdekaan.

Saya coba menanyakan ke diri sendiri, apa yang menyebabkan hal itu. Jelas secara absolut waktu tempuh saat mudik jauh lebih lama dibandingkan  dengan saat hari kemerdekaan, tetapi mengapa kekesalan hati tidak berbanding lurus dengan lamanya waktu tempuh?
Mungkin yang bisa menjelaskan hal ini adalah bedanya harapan (Expectation) waktu tempuh saat hari Kemerdekaan dan Mudik lebaran.

Saat Hari Kemerdekaan, dalam hati sudah berharap jalanan sepi sehingga waktu tempuh yang diharapkan hanya 5-6 jam,  pada kenyataannya dibutuhkan 9 jam atau satu setengah kali lebih lama dari waktu yang diharapkan. Ini membuat hati sangat kecewa karena yang terjadi jauh dari yang diharap.
Sebaliknya saat mudik sudah terpikir akan terjadi kemacetan panjang yang berdasarkan pengalaman tahun lalu bisa mencapai 21 jam, oleh karena itu ketika kenyataannya perlu waktu ”hanya” 20 jam, maka hati tidak terlalu kesal dan kecewa karena kenyataan tidak jauh berbeda dari yang diharapkan.

Paparan ini menunjukan kepuasan seseorang tidak absolut ditentukan dari realitas yang terjadi dalam kehidupan, tetapi lebih ditentukan oleh kesesuaian antara harapan dan kenyataan.
Prestasi yang sama pada suatu saat sudah sangat memuaskan tapi pada situasi lain bisa menjadi tidak memuaskan.
Oleh karena itu untuk mengukir keberhasilan, selain harus berbuat sebaik mungkin kita juga harus bisa mengetahui dan pandai ”me-manage” harapan dari ”customer” atau harapan dari diri kita sendiri.

Dengan kata lain, kekecewaan dan kepuasan hati sebenarnya tidak seratus persen tergantung dari kejadian diluar. Tetapi kita juga bisa mengontrol kekecewaan dan kepuasan jiwa kita sendiri dengan memanage Harapan yang ada didalam diri kita.
Kadang kita bisa menggantungkan harapan setinggi langit tapi kadang kita juga harus mau tidak berharap banyak, sehingga hidup menjadi lebih indah dan berwarna.

Hari ini SBY-Boediono dilantik jadi Presiden RI 2009-2014, kita banyak menggantungkan harapan kepada Presiden dan wapres  yang baru, namun sebaiknya harapannya dibuat membumi sehingga kita tidak kecewa karena terlalu tinggi harapan, ataupun sebaliknya.

Semoga Pak SBY dan Pak Boediono biasa berprestasi baik sekaligus bisa ”me-manage ” Ekspektasi rakyat, sehingga semua bisa berhasil dan terpuaskan, amin


Jakarta 20 Oktober 09

Rabu, 09 September 2009

Keistimewaan "Tanggal"


KEISTIMEWAAN ”TANGGAL”

Hari ini tepat tanggal 9 September 2009, kalau ditulis dalam angka menjadi istimewa : 09-09-09. Banyak orang percaya tanggal membawa arti dan keuntungan tersendiri.
Masih teringat ketika Tahun 1988 dianggap tahun yang membawa berkah, apalagi kalau bisa punya anak pada tanggal 8 Agustus 1988 atau 8-8-88. Tidak aneh jika pada hari itu banyak dilakukan operasi cesar . Anak saya sendiri lahir 6 juli 1988 kalau ditulis menjadi 6-7-88 , lumayan istimewa meski sama sekali tidak disengaja...

Dari saat ini sampai tahun 2012 masih ada tanggal istimewa yang akan kita alami yang tidak semua generasi dapat mengalaminya yaitu : 10 Oktober 2010 (10-10-10), 11 November 2011 (11-11-11) dan 12 Desember 2012 (12-12-12).

Selain tanggal-tanggal istimewa diatas, ada satu tanggal lain yang dinanti dan ”ditakuti” yaitu 21 Desember 2012.
Sebagian orang percaya bahwa tanggal itu adalah akhir jaman. Seperti ditulis oleh suku Maya dalam kalendernya, tahun 2012 adalah tahun terakhir, dan setelah itu tidak ada tahun lagi, apakah berarti tahun 2012 akan kiamat ¿?.

Lepas dari segala ramalan dan keyakinan yang bersifat supranatural, memang pada tanggal 21 Desember 2012 ada kejadian istimewa yang disebut dengan “Galactic Alignment” dimana Matahari akan tepat di pusat galaksi Bima sakti (tempat bumi berada). Kejadian seperti ini hanya terjadi 26.000 tahun sekali.

Beberapa teori menyatakan, dipusat galaksi Bima-Sakti ada “black-hole” yang bisa mengisap segala sesuatu kedalamnya, sehingga mereka berspekulasi pada saat itu akan terjadi kehancuran di Matahari dan juga Bumi. Namun pendapat ini banyak disanggah dan dinilai berlebihan karena kejadian “Galactic Alignment “ adalah kejadian alam biasa seperti halnya gerhana Matahari atau Bulan sehingga tidak perlu dirisaukan, yang membuatnya lebih istimewa karena kejadiannya hanya 26.000 tahun sekali, itu saja...

Sebagai Umat yang percaya Tuhan, hari akhir atau kiamat tidak ada orang yang tahu, itu adalah rahasia Tuhan. Menyikapi 2012 mungkin lebih baik tanggal itu kita jadikan sebagai “turning point” untuk memperbaiki kehidupan dunia kita yang makin terdegradasi oleh bencana alam,gempa, banjir, global warming, eksploitasi sumber-alam, polusi , perang, teroris dan krisis ekonomi global yang tak ada habisnya.


Yang terbaik yang bisa kita lakukan saat ini adalah menyeimbangkan kehidupan dunia dan surgawi , dengan bekerja keras seakan kita akan hidup 1000 tahun lagi dan selalu berdoa seakan kita akan mati esok hari. Sehingga apapun yang terjadi pada tanggal 21 Desember 2012 dan tanggal-tanggal lainnya tidak perlu dirisaukan .

Minggu, 23 Agustus 2009

MERDEKA ATAU MATERI


MERDEKA atau MATERI


Setiap memperingati 17 Agustus selalu tersebut kata Merdeka, dan selalu diikuti pertanyaan apakah dengan merdeka kita tambah sejahtera? Mengapa setelah sekian puluh tahun merdeka masih saja tetap miskin ?.


Kemerdekaan selalu dikaitkan dengan materi, padahal dua hal ini beda dimensinya. Merdeka berhubungan dengan Jiwa sedang materi berhubungan nafsu badaniah.

Bisa jadi orang yg tidak punya apa-apa tetapi jiwanya merdeka dan sebaliknya ada orang bergelimang harta tapi tidak merdeka.

Merdeka adalah bebas dari tekanan, bebas berpendapat dan bebas dari rasa takut..


Orang yg tidak bergelimang harta pantas bersyukur karena ia dikaruniai kemerdekaan dari rasa takut, yaitu bebas dari rasa takut kehilangan harta....

Bayangkan orang yang punya jabatan tinggi dan harta banyak tetapi hidupnya disandera oleh rasa takut kehilangan. Sehingga mengorbankan kemerdekaannya dalam berpendapat, dan bertindak hanya sekedar untuk tidak mau kehilangan materi dan jabatan yang sudah dipunyainya. Padahal pada waktu mati nanti tidak ada satupun materi yg bisa dibawa ke dalam kubur.


Untuk merdeka janganlah diukur hanya dengan materi yang didapat dari kemerdekaan itu, tapi ukurlah dari ketentraman dan kebebasan jiwa . Bebas untuk berekspresi dan bebas dari rasa takut.

Kadang kala Merdeka dan Materi tidak sejalan dan merupakan pilihan. Lalu jika kita diharuskan memilih untuk mendahulukan antara Merdeka atau materi, maka dapat disimak kata-kata dari Alm. WS Rendra dibawah ini :

"Lebih baik mati diatas kaki sendiri daripada hidup bertekuk-lutut dihadapan orang lain"


Kegelimangan materi biasanya akan mengikis kemerdekaan hidup. Jangan terlalu terpesona dengan limpahan materi, karena limpahan materi yang tidak digunakan untuk sesama hanya akan menumbuhkan egoisme dan rasa takut kehilangan. Ini bertentangan dengan inti arti hidup manusia yaitu "kemerdekaan jiwa".

Hanya orang2 istimewa sajalah yang bisa menimbun banyak harta sekaligus dapat menjaga kemerdekaan jiwa dan hidupnya.


Materi membuat manusia hidup, tetapi kemerdekaan membuat hidup manusia berarti.

MERDEKA tidak patut jika digadaikan dengan MATERI

Jumat, 21 Agustus 2009

kesuksesan


KESUKSESAN “ANAK - ORANG TUA”


Sekarang ini banyak orang sedang merayakan kesuksesannya , sukses dapat meraih gelar sarjana, sukses ber-wirausaha, sukses menjadi seniman, sukses menjadi direktur, sukses menjadi jendral sampai sukses menjadi Presiden.

Pertanyaannya adalah, apakah keberhasilan yang dicapai ini memang hasil jerih payahnya?

Untuk menjawabnya, mungkin kita harus menerawang jauh ke belakang.


Kalau tidak ada ibu yang melahirkan kita ,apakah sukses ini terjadi?

Kalau tidak ada orang tua yang menyusui dan rela mengorbankan harta raganya untuk membesarkan kita, apa keberhasilan ini terjadi?

Kalau tidak ada doa, petuah,bimbingan dan kasih-sayang yang tulus dari orang tua, apakah kesuksesan kita itu akan terwujud?


Jadi benar kata orang keberhasilan kita hari ini bukanlah ukuran dan pertanda sukses kita tetapi itu adalah Wujud kesuksesan orang tua kita.

Oleh karena itu jangan cepat bangga dengan keberhasilan dan kesuksesan kita hari ini karena sebenarnya sukses itu bukan milik kita sepenuhnya, tetapi milik orang tua kita.

Kesuksesan kita yang hakiki akan diukur dan dibuktikan dari kesuksesan anak kita .


Jika ingin memuliakan Orang tua maka berusahalah untuk meraih keberhasilan hidup kita setinggi mungkin , tetapi jikan ingin meraih kesuksesan kita sendiri maka binalah anak kita untuk bisa meraih keberhasilan hidupnya kelak..

Bagi yang tdk punya anak, tidak perlu gelisah karena banyak anak2 disekitar kita yang membutuhkan orang tua dan perlu bimbingan untuk meraih keberhasilan hidupnya..


Kita buktikan kesuksesan kita dengan membina anak- anak kita dan juga anak disekitar kita agar bisa mencapai keberhasilan dan kesuksesan hidupnya di masa depan. Itu adalah tantangan yang besar dari Tuhan.

Rabu, 24 Juni 2009

Ketika sapaan tidak dibalas...


Di suatu perusahaan ada seorang manager senior baru yang pendiam, setiap pagi jika disapa salam anak buahnya tidak pernah membalas apalagi tersenyum.

Hampir semua anak buahnya menjadi ikut acuh jika bertemu dengannya, kecuali Dimas yang tetap konsisten memberi salam meskipun tidak pernah sekalipun dibalas. Akhirnya teman-temannya ingin tahu apa sebabnya dia berbuat demikian , apa karena takut atau hanya ingin mencari “perhatian”.

“ aku akan terus memberi salam atasanku, meski tidak dibalas, karena aku memberi salam bukan karena ingin dibalas, aku lakukan karena aku percaya itu adalah hal yang baik, dan hal yang baik akan aku lakukan murni dari dalam hatiku, tidak peduli ada balasan atau tidak". Itu alasan yang diungkapkan Dimas.
Sebagian temannya mengangguk-angguk, tetapi yang lainnya bergumam “ ah hidup kan harus saling menghormati, kalau dia tidak mau menjawab ya kita tidak usah menyapa, jadi impas..”
Setelah berbulan bulan akhirnya sang Manager, (-tidak tahu karena apa-), menjadi mau membalas salam dan menjadi akrab dengan Dimas, sedang karyawan yang lain tetap acuh dan jauh.

Tindakan Dimas yang konsisten itu menunjukkan kemerdekaan jiwanya yang bisa “memaksa”sang Manager menuruti ajakannya untuk saling menyapa. Bandingkan dengan temn-temannya yang ikut-ikut menjadi acuh akhirnya tidak mendapatkan manfaat apa-apa dan secara tidak sadar menjadi sub-ordinasi dari managernya.


Sebagian dari kita percaya hidup harus “take and give” atau harus saling berbalas (resiprokal) ,kalau tidak berarti kita menjadi tidak terhormat dan kalah…
- Saya akan menyapa kalau dia juga balas menyapa
- Aku tidak akan tersenyum kalau dia tidak tersenyum dulu
- Saya hanya akan mengikuti sarannya, kalau dia juga mau menerima saran saya, ...

Prinsip itu tidak salah, tetapi kalau selalu menggunakan asas resiprokal, sebenarnya perbuatan kita menjadi tergantung pada orang lain, bukankah ini berarti kita menjadi tidak merdeka tetapi malah selalu ”didikte” orang lain.

Rabu, 15 April 2009

PAKU dan LUKA

PAKU dan LUKA

Seorang bapak mempunyai seorang anak yang suka memarahi orang lain dengan kata2 kasar yang menyakitkan hati bahkan sampai berkelahi. Bosan menasehati anaknya, akhirnya sang ayah menghukum anaknya setiap kali memarahi atau menyakiti hati orang lain ia harus menancapkan paku yang besar di kayu pagar halaman.

Pada hari pertama terlihat ada sepuluh paku tertancap, setiap hari terlihat paku berkurang, sampai suatu saat sang anak berkata ke bapaknya :” Pak sekarang aku sudah bisa mengontrol emosi-ku sehingga aku tidak perlu menambah paku yang tertancap”

Sang Ayah tersenyum memang dalam beberapa hari ini sang anak sudah tidak menancapkan paku lagi karena sudah tidak pernah marah-marah lagi, kemudian sang Ayah berkata : “ Bagus anakku, kamu telah berubah, sekarang cobalah berbuat baik dengan menyenangkan dan berbuat baik pada orang-orang di sekitarmu, dan setiap ada orang yang berbahagia dengan tindakanmu maka CABUT –lah satu paku tertancap dikayu pagar.”

“Baik Pak akan saya lakukan untuk menebus segala kejelekan saya dimasa lalu,”, kemudian dengan semangat sang anak mulai mencoba berbuat baik dengan orang disekitarnya , sebulan kemudian semua paku yang ada dipagar sudah habis tercabut, kemudian dia menemui ayahnya kembali. “Pak, aku sdh memenuhi permintaan bapak, dan semua Paku telah tercabut”.

“Selamat anakku, bapak bahagia sekali karena kamu benar-benar telah berubah dan bisa berguna bagi orang lain, tetapi cobalah lihat bekas-bekas paku yang ada di kayu, meskipun sudah dicabut tetapi lobangnya terus membekas, seperti itulah juga orang yang pernah kau lukai meskipun kamu telah berusaha memperbaikinya tetapi bekas dan trauma hati yang ada terus membekas dan sukar dihilangkan seperti bekas paku-paku itu….”

Minggu, 11 Januari 2009

Selalu bisa dari diri sendiri (mawas diri)


Dalam menghadapai tantangan hidup selalu ada permasalahan dan ketidak puasan.

Banyak pula kejadian yang tidak kita harapkan seperti kegagalan, tidak berhasil dalam usaha bahkan sampai merasa difitnah atau dianiaya..

Dalam kondisi seperti itu kita sering tergoda untuk menyalahkan pihak lain, atau menuntut pihak lain untuk berubah. apakah benar demikian??

Kata orang bijak , yang paling baik dalam menghadapi hal tersebut adalah mawas diri, selalu ada yang dapat kita perbaiki dalam diri kita untuk meraih kesuksesan dan menghapus kegagalan. karena bagaimanapun merubah dan memperbaiki diri sendiri akan lebih cepat dan bisa dilakukan daripada mengharap orang lain berubah lebih dulu.

Dan ibarat petani, tidak mugkin mengharapkan panennya dulu baru mau menanam benihnya, tetapi kita harus rela menanam benihnya dulu baru mengharapkan panen-nya.


Demikian pula dalam kasus kita "merasa" benar-benar tidak bersalah misalnya, kalau kita difitnah orang lain. Nah dalam hal difitnah sekalipun sebenarnya kita juga perlu mawas diri, meskipun kita tidak salah, namun pertanyaan yang perlu kita gali adalah "mengapa harus saya yang difitnah dan bukan orang lain??", nah mungkin ada sesuatu yang lain dalam diri kita yang pelu diperbaiki juga...


Salam, mulailah dari diri sendiri,
Agusta