Salam dari Saya

Foto saya
Terima kasih telah mengunjungi Blog saya. Hal penting dalam hidup,bahwa manusia harus terus berkembang dalam segala hal agar bisa berhasil dan selalu mawas diri. Oleh karena itu kami buat blog ini untuk berbagi tanpa harus menggurui. Semua orang punya kekurangan dan kelebihannya sendiri, dan akan menjadi lebih baik bila mau saling mengisi dan berbagi.

Jumat, 08 Oktober 2010

Ups!, Sifat Manusiawi Obama

Ketika Presiden Obama sedang berpidato di ajang 'The Most Powerful Woman' versi majalah Fortune, di Washington tiba-tiba Logo kepresidenan (seal) Amerika Serikat yang terpasang didepan Podium terjatuh, buuk!.


Ups, Apa itu..,tenang saja, Anda semua tahu siapa saya kan?” begitu komentar spontannya dengan nada canda dan tersenyum tanpa menyombongkan diri.
“Tapi saya yakin, seorang di belakang panggung pasti nervous saat ini, dan berkeringat dingin ha ha” lanjutnya tetap dengan nada yang cair dan bercanda

Setelah diam sejenak, saya pikir Presiden Obama akan mengomentari “kejadian” itu atau mungkin mengatakan itu hal yang wajar, tapi surprising, Obama tidak berkata apa-apa malah hanya ketawa panjang.... dan meneruskan pidatonya.

Sungguh menunjukkan kemanusiawi-annya, dengan hanya “tertawa” dia memberi kesan bahwa it’s OK, tetapi disisi lain dia juga tidak menyatakan secara eksplisit bahwa dia memaklumi kejadian itu, sehingga secara bersamaan juga memberi pesan jelas ke penyelenggara untuk memperbaiki kinerjanya.
Mungkin salah satu sifat manusiawi inilah yang banyak menarik simpati pemilih di US.

Memang dalam hidup tidak semua bisa sempurna, namun bila ketidak-sempurnaan dan segala kekurangan bisa diungkapkan dengan jujur dan tulus , akan menarik simpati, yang akhirnya bisa mendapatkan jalan keluar untuk mengatasi kekurangan tersebut.

Sebaliknya jika kita berusaha menutupi segala kekurangan hanya sekedar untuk memberikan kesan sempurna maka yang muncul adalah kepalsuan dan hipokrit yang tidak menarik simpati dan menimbulkan masalah di kemudian harinya.
Menjadi Pemimpin yang sempurna adalah hebat, tetapi lebih hebat lagi menjadi Pemimpin yang manusiawi yang penuh ketulusan dan keberanian untuk jujur ......

8 oktober 2010

Kamis, 02 September 2010

Struktur Organisasi yang terbalik


Pada suatu workshop, Prof Thomas Alexander dari AIM (Asian Institute of Management) menggambar Struktur Organisasi pada flipchart, kemudian ia menanyakan pada peserta workshop, apa komentarnya tentang struktur organisasi yang baru digambarnya. Banyak jawaban dari peserta workshop tetapi belum ada yang tepat, akhirnya Prof. Thomas berkata : “ Perhatikan, saya menggambarkan Struktur organisasi secara berbeda, umumnya pemimpin atau CEO ditulis pada kotak paling atas kemudian ada panah kebawah masing-masing ke para direktur dari dari direktur turun lagi kebawah ke para manager dan seterusnya. Tapi kali ini saya gambarkan terbalik, justru Pemimpin atau CEO , kotaknya saya gambar dipaling bawah, kemudian anak buahnya ada diatasnya”

Kelihatannya sepele, hanya membalik cara penggambaran struktur Organisasi, tetapi sebenarnya ada falsafah yang mendalam yang membedakan cara penggambaran tersebut.
Cara yang konvensional, menunjukkan bahwa Pemimpin letaknya diatas dan untuk posisi itu ia harus ditopang oleh team yang ada dibawahnya, dengan demikian digambarkan bahwa keberhasilan pemimpin adalah dengan “berpijak” dan “memanfaatkan “ anggota team yang dibawahnya. Biasanya pemimpin dengan pola pikir seperti ini akan cepat mengklaim keberhasilan sebagai hasil karyanya namun jika ada kegagalan dan kesalahan tidak segan melempar ke bawahannya.
Sebaliknya , penggambaran struktur Organisasi yang terbalik, menunjukkan “pola pikir” pemimpin sebagai penopang keberhasilan anggota teamnya, sehingga pemimpin seperti ini keberhasilannya tergantung dari bagaimana dia mensupport dan memfasilitasi anak buahnya agar dapat berhasil dalam pekerjaannya.

Dengan kata lain pemimpin dengan penggambaran struktur organisasi dari atas ke bawah cenderung memerintah, menuntut dan mungkin melempar kesalahan, sedangkan yang gambarnya dibalik dari bawah ke atas, maka pemimpin akan lebih bersifat mendidik dan mengembangkan anggota teamnya untuk mencapai keberhasilan bersama.

Kalau akhir-akhir ini banyak pemimpin yang mau menang sendiri, dalam arti jika berhasil akan diklaim sebagai prestasinya dan jika gagal atau salah tidak segan-segan melempar kebawahannya, mungkin sebabnya karena sudah terbiasa menggunakan gambar struktur organisasi yang Konvensional dari atas ke bawah.
Ada baiknya diusulkan untuk merubah dan membalik cara penggambaran Struktur organisasinya , siapa tahu pola pikir para pemimpin kita juga bisa berubah tidak hanya menuntut dan memerintah, tetapi bisa menjadi pemimpin yang mendidik , membina dan mengembangkan teamnya untuk mencapai keberhasilan.

Jumat, 06 Agustus 2010

Jujur - Adil - Tegas.

Agak kaget juga melihat tindakan Artis gaek kita Pong Harjatmo, yang dalam usia diatas 60 tahun, memanjat atap keong gedung DPR untuk menuliskan ungkapan hatinya : JUJUR – ADIL- TEGAS.
Lepas dari benar tidaknya “cara- penyampaian dan motivasinya”, kata-kata yang ditulis sangat bermakna untuk disikapi dan urutan penulisannya-pun juga sangat logis : Jujur, adil dan Tegas.
Kita semua tahu ketegasan hanya bisa dijalankan dengan baik jika dasarnya keadilan, dan orang bisa berlaku adil kalau ada kejujuran di hatinya.

Orang yang ingin bersikap tegas tetapi tidak adil biasanya akan terjebak pada sikap “mau menang sendiri”, semua tindakannya tidak mau di debat atau didiskusikan karena ada sesuatu yang “ditutupi”, orang seperti ini sering menggunakan kata “pokoknya......” dan ketegasan seperti ini bisa menjurus ke diktator.
Sebaliknya orang yang bertindak tegas dengan dilandasi keadilan biasanya tidak tabu untuk didebat, karena bisa menjelaskan dasar dan alasan terbaik dari tindakannya.

Demikian Juga sikap adil sangat tergantung kejujuran hati, jujur dalam menilai mana yang benar dan mana yang salah, mana yang mampu dan mana yang tidak, mana yang berhak mana dan yang tidak.
Adil bukan berarti sama rata- sama rasa, tetapi adil adalah jika orang mendapatkan hak sesuai dengan usahanya, disinilah dibutuhkan kejujuran untuk menilai hak dan usaha yang telah dilakukan seseorang.
Kebijakan atau tindakan yang didasarkan kejujuran biasanya akan adil, karena tidak menganak-emaskan ataupun menganak-tirikan, semua didasarkan pada penilaian yang benar dan apa adanya.

Sepahit apapun keputusan atau kebijakan, asal didasari keadilan dan kejujuran, biasanya akan lebih dapat diterima. Dibandingkan kebijakan yang manis tetapi tidak jujur biasanya awalnya diterima tetapi akan memunculkan konflik dibelakangnya.

Tidak mengherankan jika semua ajaran agama mengajarkan pentingnya kejujuran. Kejujuran adalah sarana untuk introspeksi sehingga kita bisa menjadi lebih baik, menjadi lebih adil dan mejadi lebih tegas.
Menjelang bulan ramadhan ini, mari kita mulai jujur pada Tuhan, jujur pada diri sendiri dan jujur pada orang lain . Dengan ibadah puasa semoga kejujuran kita semakin terasah pada bulan yang suci ini, Amin

6 Agustus 2010, empat hari menjelang Ramadhan....