Salam dari Saya

Foto saya
Terima kasih telah mengunjungi Blog saya. Hal penting dalam hidup,bahwa manusia harus terus berkembang dalam segala hal agar bisa berhasil dan selalu mawas diri. Oleh karena itu kami buat blog ini untuk berbagi tanpa harus menggurui. Semua orang punya kekurangan dan kelebihannya sendiri, dan akan menjadi lebih baik bila mau saling mengisi dan berbagi.

Jumat, 06 Agustus 2010

Jujur - Adil - Tegas.

Agak kaget juga melihat tindakan Artis gaek kita Pong Harjatmo, yang dalam usia diatas 60 tahun, memanjat atap keong gedung DPR untuk menuliskan ungkapan hatinya : JUJUR – ADIL- TEGAS.
Lepas dari benar tidaknya “cara- penyampaian dan motivasinya”, kata-kata yang ditulis sangat bermakna untuk disikapi dan urutan penulisannya-pun juga sangat logis : Jujur, adil dan Tegas.
Kita semua tahu ketegasan hanya bisa dijalankan dengan baik jika dasarnya keadilan, dan orang bisa berlaku adil kalau ada kejujuran di hatinya.

Orang yang ingin bersikap tegas tetapi tidak adil biasanya akan terjebak pada sikap “mau menang sendiri”, semua tindakannya tidak mau di debat atau didiskusikan karena ada sesuatu yang “ditutupi”, orang seperti ini sering menggunakan kata “pokoknya......” dan ketegasan seperti ini bisa menjurus ke diktator.
Sebaliknya orang yang bertindak tegas dengan dilandasi keadilan biasanya tidak tabu untuk didebat, karena bisa menjelaskan dasar dan alasan terbaik dari tindakannya.

Demikian Juga sikap adil sangat tergantung kejujuran hati, jujur dalam menilai mana yang benar dan mana yang salah, mana yang mampu dan mana yang tidak, mana yang berhak mana dan yang tidak.
Adil bukan berarti sama rata- sama rasa, tetapi adil adalah jika orang mendapatkan hak sesuai dengan usahanya, disinilah dibutuhkan kejujuran untuk menilai hak dan usaha yang telah dilakukan seseorang.
Kebijakan atau tindakan yang didasarkan kejujuran biasanya akan adil, karena tidak menganak-emaskan ataupun menganak-tirikan, semua didasarkan pada penilaian yang benar dan apa adanya.

Sepahit apapun keputusan atau kebijakan, asal didasari keadilan dan kejujuran, biasanya akan lebih dapat diterima. Dibandingkan kebijakan yang manis tetapi tidak jujur biasanya awalnya diterima tetapi akan memunculkan konflik dibelakangnya.

Tidak mengherankan jika semua ajaran agama mengajarkan pentingnya kejujuran. Kejujuran adalah sarana untuk introspeksi sehingga kita bisa menjadi lebih baik, menjadi lebih adil dan mejadi lebih tegas.
Menjelang bulan ramadhan ini, mari kita mulai jujur pada Tuhan, jujur pada diri sendiri dan jujur pada orang lain . Dengan ibadah puasa semoga kejujuran kita semakin terasah pada bulan yang suci ini, Amin

6 Agustus 2010, empat hari menjelang Ramadhan....

Selasa, 15 Juni 2010

Pilihan.....


Kalau sedang jalan-jalan di Macau jangan kaget kalau ditawari ”kue Isetri” bentuknya seperti pia dan agak manis. Mungkin bentuk dan rasanya tidak istimewa, tetapi namanya:  ”kue Isteri”, membuat orang bertanya-tanya.
Nama ”Kue isteri” ini berasal dari cerita beberapa abad yang lalu di Macau. Dikisahkan ada seorang pria di Macau yang pekerjaannya hanya berjudi. Suatu saat sang penjudi ini kalah total, dan hartanya habis. Demi memenuhi hasrat judinya, ia kemudian tega menjual istrinya untuk mendapatkan uang untuk Judi. Dan dapat ditebak , ia pun kalah lagi dalam berjudi, uang hasil ”menjual” istrinyapun habis - ludes.
Pada saat titik nadir inilah , pria itu  sadar akan semua kekhilafannya, dan ia tak sanggup membayangkan betapa tersiksa  istrinya yang telah dia jual .
Dalam keadaan putus asa munculah pilihan-pilihan, mulai yang terburuk sampai yang terbaik. Syukurlah pria itu memilih yang terbaik, ia berjanji untuk dapat ”menebus” istrinya kembali dengan cara yang baik. Muncul niatnya untuk berjualan Kue yang hasilnya nanti akan dipakai menebus kembali istrinya. Melihat niat baik dan ketekunan pria itu semua warga Macau mendukung dengan ramai-ramai membeli kue yang dijaja-kannya. Akhirnya dari jualan kue itu, pria itu berhasil mengumpulkan uang banyak dan berhasil menebus kembali istrinya. Alkisahh, pasangan suami-isteri  itu terus menjual kue-nya turun temurun. Kue itu masih terus ada sampai sekarang dan dikenal sebagai ”Kue Istri”.
Keberhasilan dan ke-insyafan seseorang tidak tergantung pada orang lain, tetapi tergantung pada pilihan diri sendiri. Dan Tidak ada kata terlambat dalam memilih kebenaran. Pilihan yang baik dan benar, meski terlambat, tetap akan memberikan akhir yang manis.

pas,15 juni 2010